Puisi Babak Final | fls2n.com

Puisi Babak Final

Materi Lomba Baca Puisi
FLS2N 2017 SMA


Babak Final






Ini adalah beberapa naskah puisi yang salah satu harus dipilih dan dibaca oleh peserta FLS2N SMA tahun 2017 bidang Lomba Baca Puisi saat babak final.






Ibukota Senja



Toto Sudarto Bachtiar


Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai kesayangan, o, kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saing menyaingi
Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelok
Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengurai dan layung-layung membara di langit barat daya
O, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu
Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut
Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dini hari
Serta di keabadian mimpi-mimpi manusia
Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan
Serta anak-anak yang berenang tertawa tak berdosa
Di bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung senja melambung hilang
Dalam hitam malam menjulur tergesa
Sumber-sumber murni menetap terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas
O. kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku

1951




Surat



M. Poppy Hutagalung


telah kudengar dari mereka, fakri
akan sebuah daerah yang kukuh
sebuah persekutuan hidup yang kukuh
adat yang kuat indah
kesetian yang cerlang abadi
kudengar kekeluargaan yang akrab
pertalian di mana hanya mati yang memisah
daerah tertutup, di mana di luarnya adalah api neraka
yang membakar dan menghancurkan sepanjang waktu
bila kupijakkan kaki kepadanya
maka malam ini kutulis padamu
kau tidak dari daerah itu
ah, seseorang menjemputku mengganti kau
menating minyak penuh bagiku
tapi aku hanya cinta kau
telah kita dengar bicara orang-orang besar
kita baca buku-buku mereka
kita jelajahi daerah demi daerah
suku demi suku, kehidupan demi kehidupan mereka
kita pergunakan pikiran dan perasaan kita
dan kita akhirnya tahu alangkah indah Irian itu
alangkah indah Sumatra
alangkah indah Kalimantan,
Sumbawa
alangkah indah tanah air kita
hari ini kunaiki jenjang perkawinan
mereka bahagia di sisiku
kembang-kembang bertaburan
doa-doa berpanjatan :
- panjanglah umur kalian banyak rahmat dan banyak
anak –
tapi aku hanya harapkan anak dari padamu
kepala kutundukkan
ia bimbing aku keluar gereja
senyumnya hanya bahagia
senyum tertutup daerah
tertutup, “ yang besar dan megah “
tapi aku hanya megahkan kau, fakri
daerah kita adalah semua daerah tanah air kita
dan kita cinta semua
kita satu semua
kita nyanyikan rangkaian
mutiara dari timur
pulau kita semua mutiaranya,
ah fakri
kami bersanding di pelaminan
kini air mataku menetes
selamat tinggal pada semua
kemerdekaan, salamku
selamat tinggal pada
pengertian dan perjoangan yang diremukan
selamat tinggal padamu, fakri
selamat berjuang bagi persatuan dan kemulian kita semua
selamat bagi semua.




Rakyat



Hartojo Andangdjaja


Rakyat ialah kita
jutaan tangan yang mengayun dalam kerja
di bumi di tanah tercinta
jutaan tangan mengayun bersama
membuka hutan lalang jadi
ladang-ladang berbunga
mengepulkan asap dari
cerobong pabrik-pabrik di kota
menaikkan layar menebar jala
meraba kelam di tambang
logam dan batubara
Rakyat ialah tangan yang bekerja
Rakyat ialah kita
otak yang menapak sepanjang
jemaring angka-angka
yang selalu berkata dua adalah dua
yang bergerak di simpang siur garis niaga
Rakyat ialah otak yang menulis angka-angka
Rakyat ialah kita
beragam suara di langit tanah tercinta
suara bangsi di rumah
berjenjang bertangga
suara kecapi di pegunungan jelita
suara bonang mengambang di pendapa
suara kecak di muka pura
suara tifa di hutan kebun pala
Rakyat ialah suara beraneka
Rakyat ialah kita
puisi kaya makna di wajah semesta
di darat hari yang berkeringat
gunung batu berwarna coklat
di laut angin yang menyapu kabut
awan menyimpan topan
Rakyat ialah puisi di wajah semesta
Rakyat ialah kita
darah di tubuh bangsa
debar sepanjang masa

1961




Manusia Pertama di Angkasa Luar



Subagio Sastrowardoyo


Beritakan kepada dunia
Bahwa aku telah sampai pada tepi
Darimana aku tak mungkin kembali.
Aku kini melayang di tengah ruang
Di mana tak terpisah malam dan siang.
Hanya lautan yang hampa
dilingkung cemerlang bintang.
Bumi telah tenggelam
dan langit makin jauh mengawang.
Jagat begitu tenang. Tidak lapar
Hanya rindu kepada istri,
kepada anak, kepada ibuku di rumah.
Makin jauh, makin kasih
hati kepada mereka yang berpisah.
Apa yang kukenang? Masa
kanak waktu tidur dekat ibu
Dengan membawa dongeng
dalam mimpi tentang kota
Dan raksasa, peri dan
bidadari. Aku teringat
Kepada buku cerita yang
terlipat dalam lemari.
Aku teringat kepada bunga
mawar dari Elisa
Yang terselip dalam surat
yang membisikkan cintanya kepadaku
Yang mesra. Dia kini tentu berada di jendela
Dengan Alex dan Leo—itu
anak-anak berandal yang
kucinta—
Memandangi langit dengan
sia. Hendak menangkap
Sekelumit dari pesawatku,
seleret dari
Perlawatanku di langit tak berberita.
Masihkah langit mendung di bumi seperti waktu
Kutinggalkan kemarin dulu?
Apa yang kucita-cita? Tak ada lagi cita-cita
Sebab semua telah terbang bersama kereta
ruang ke jagat tak berhuni.
Tetapi ada barangkali. Berilah aku
satu kata puisi daripada seribu rumus ilmu
yang penuh janji
yang menyebabkan aku
terlontar kini jauh dari bumi
yang kukasih. Angkasa ini bisu. Angkasa ini sepi
Tetapi aku telah sampai pada
tepi Darimana aku tak mungkin
lagi kembali.
Ciumku kepada istriku,
kepada anak dan ibuku
Dan salam kepada mereka
yang kepadaku mengenang.
Jagat begitu dalam, jagat begitu diam.
Aku makin jauh, makin jauh
Dari bumi yang kukasih. Hati makin sepi
Makin gemuruh.
Bunda,
Jangan membiarkan aku sendiri.




Gugur



Rendra


Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya.
Tiada kuasa lagi menegak.
Telah ia lepaskan dengan gemilang pelor terakhir dari bedilnya ke dada musuh yang merebut kotanya.
Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya.
Ia sudah tua luka-luka di badannya.
Bagai harimau tua susah payah maut menjeratnya.
Matanya bagai saga menatap musuh pergi dari kotanya.
Sesudah pertempuran yang gemilang itu lima pemuda mengangkatnya di antaranya anaknya.
Ia menolak dan tetap merangkak menuju kota kesayangannya.
Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya.
Belum lagi selusin tindak maut pun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya ia berkata:
“Yang berasal dari tanah kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah: tanah Ambarawa yang kucinta.
Kita bukanlah anak jadah kerna punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita dengan mataairnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah jiwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa.
Orang tua itu kembali berkata:
“Lihatlah, hari telah fajar!
Wahai bumi yang indah, kita akan berpelukan
buat selama-lamanya!
Nanti sekali waktu seorang cucuku akan menancapkan bajak di bumi tempatku berkubur kemudian akan ditanamnya benih dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun akan berkata:
“Alangkah gemburnya tanah di sini!”
Hari pun lengkap malam ketika ia menutup matanya.




Nyanyian Yang Dilupakan



Ramadhan K.H


Tuhan yang menciptakan seni
dan bumi
air dan udara dan api,
menciptakan semua kita yang
ada,
selalu hormat dan cinta
padamu,
langit dan dedaunan
gemelepar,
bulan dan bintang hidup dan
berhikmat selalu
bagimu dan bagimu dan
bagimu.
Sebanyak daunan lampu
digantung di dahan
pohonan

untuk meriahkan istana
yang asing dan tetap asing
bagimu,
meja bangkit dan kemewahan
dibuka
berbatasan dengan lingkaran
dunia yang pahit, duniamu.
Bulan dan bintang yang setia
dan tetap setia padamu,
Meredupkan lampu-lampu
yang banyak dusta dan
penipuan.
Namamu tergores disetiap
rangka tulang bangunan
dan keuntungan,
Kendatipun tidak
dicanangkan malahan
dilupakan.
Kaulah sebenarnya yang
lahirkan kemerdekaan,
tanpa idamkan taman dan
tugu kemerdekaan,
Kaulah sebenarnya yang
bangkitkan pembebasan,
tanpa kucup kenikmatan dan
kemegahan pembebasan.
Butir padi, garam dan
perlindungan,
Ladang, daratan, air dan
kekuatan,
adalah kepunyaan dan
kelahiranmu.
Warisanmu adalah sungai,
tanaman,
warisanmu adalah tiap
tegukan dan santapan.

Kau adalah kapten barisan
yang selalu ada di depan,
Untuk kemerdekaan dan
kemanusiaan
Kau adalah pertahanan
utama yang selalu pantang
menyerah,
untuk pembebasan dan
keagungan.
Pahlawan kemerdekaan,
kaulah satu-satunya
pahlawan kemerdekaan
dan tiada yang lain yang lebih
patut pakaikan mahkota
kemerdekaan.
Pejuang perdamaian, kaulah
satu-satunya pejuang
perdamaian
dan tiada yang lain yang lebih
patut kenakan bintang
perdamaian.
Waktu pistol pertama
meletus untuk
kemerdekaan,
adalah pistol jantungmu yang
ditembakkan.
Waktu bendera pertama
berkibar untuk
pembebasan,
adalah bendera semangatmu
yang diacungkan.
Waktu kurban pertama
diminta untuk keagungan,
adalah nyawamu yang
pertama dikurbankan.
Kau adalah alas dan puncak
semua pujian dan pujaan;
Sejak fajar sampai fajar jadi
sasaran penipuan dan
pencekikan.
1960.

Puisi Babak Final